Showing posts with label Edisi 1. Show all posts
Showing posts with label Edisi 1. Show all posts

Memulung Sampah, Mendulang Rupiah

Ini mungkin kegiatan yang sangat langka, bahkan tidak terpikirkan oleh kita, akan dilakukan oleh anak-anak PIA dan PIR, tetapi itulah ke-nyataannya. Dalam rangka memberdayakan anak dan remaja, sejalan dengan program Keuskupan Agung Semarang, di mana tahun 2008, sebagai tahun anak dan remaja, maka Lingkungan 1 Wilayah Yusuf baru-baru ini mengadakan kegiatan cinta lingkungan.
Kegiatan yang diikuti sebanyak 36 anak dan remaja lingkungan 1 Wilayah Yusuf ini, sasarannya adalah mengenalkan kepada kaum muda, agar berlaku bijak pada sampah. Kegiatan diawali dengan memulung sampah organik, bisa dari limbah rumah tangga atau mencari di lingku-ngan sekitar. Sampah organik itu nantinya akan dijadikan pupuk organik, baik hasil cair maupun padat.

Kegiatan yang berlangsung di sekitar komplek perumahan PU Jl. Karangrejo itu, dimotori oleh aktivis lingkungan hidup, Yudi Mahaswanto yang dibantu Yohanes Ngatiman dan Sriyanto. Pada kegiatan ini, Wawan panggilan akrab Yudi Mahaswanto, memberikan arti penting mengelola sampah dengan bijak. Kalau salah mengelola, akibatnya bisa mendatangkan bencana.
Sampah organik yang berhasil dipulung anak-anak, kemudian dicacah kecil – kecil yang selanjutnya akan diproses menjadi pupuk organik cair, dengan proses pengendapan dalam waktu tertentu. Proses inipun juga menghasilkan pupuk organik padat. Hasilnya bisa dijual dengan harga cukup tinggi, khususnya yang pupuk cair. Dari hasil inipun sebenarnya dapat menambah dana untuk pembinaan PIA dan PIR.
Selain belajar membuat pupuk, anak – anak juga diajar bagaimana menanam tanaman dengan benar, termasuk cara merawatnya. Hal ini dimaksudkan agar anak – anak sejak dini dikenalkan dengan cinta akan lingkungan hidup, termasuk menanam dan merawat tanaman.
Sebelum diakhiri kegiatan itu, anak – anak PIA dan PIR juga diajarkan cara menyelamatkan lingkungan dari ancaman kekeringan dan bahaya banjir. Mengingat paroki kita berada di kota atas, maka anak – anak dikenalkan cara membuat lubang resapan. Tujuannya, agar bila turun hujan, airnya tidak langsung dibuang ke selokan, tetapi disalurkan ke lubang resapan.
Hal ini bertujuan, agar pada saat musim kemarau kelak, air yang masuk kedalam lubang resapan dapat memberikan pasokan sumur – sumur sekitar, sehingga terhindar dari kesulitan air saat kemarau datang.
Bagaimana dengan kegiatan PIA dan PIR Wilayah lain ? Mudah – mudahan ada inovasi dan aktivitas yang bermanfaat. Jangan jadikan tahun anak dan remaja di 2008 ini, hanya sekedar slogan belaka. ( Lambertus DN)

Rumah Alam Baka

Alkisah, tersebutlah seorang ibu kaya raya tinggal di rumah megah seperti istana.. Dengan kekayaannya yang berlimpah, ia bisa membeli apa saja dan tak kekurangan apa pun. Tapi, kendati pun harta dan uangnya berlimpah, ia sangat kikir dan tak pernah memikirkan orang lain. Pintu rumah dan pintu hatinya selalu tertutup untuk orang-orang yang datang minta bantuan atau sumbangan. Tak sepeser pun uangnya diberikan untuk membantu orang yang kekurangan atau untuk gerakan kemanusiaan.
Tahun berlalu. Kehidupan yang dijalaninya dengan hanya memikirkan diri sendiri memasuki hari senja. Kehidupan alam baka mulai menghantuinya secara perlahan.

Suatu malam, ia mimpi meninggal dunia. Arwahnya menuju ke alam baka dan sampai di tempat yang aneh tapi menakjubkan. Ia bingung, merasa tersesat dan tak tahu arah yang harus dituju. Ketika melihat malaikat, ia segera bertanya, “Apakah Anda bisa menunjukkan di mana rumah abadi saya? Saya baru saja tiba di sini sesudah perjalanan hidup yang panjang di dunia. Saya sangat lelah dan ingin lihat rumah yang akan saya tinggali untuk selamanya.”
“Mari, saya tunjukkan jalannya,” kata malaikat.
Ibu itu berjalan bersama malaikat melewati tempat-tempat yang sangat indah. Ia melihat istana megah, villa mewah, dan mansion indah. Tapi malaikat masih mengajaknya jalan terus sampai akhirnya masuk ke daerah kumuh. Ke mana pun mata memandang, yang terlihat hanya gubuk reyot dan rumah sangat sederhana. Malaikat itu lalu berhenti di depan sebuah gubuk rendah dan reyot. Lalu berkata kepada ibu tersebut, “Inilah rumah abadi Anda.”
Ibu kaya itu sangat kaget dan bertanya, “Mustahil! Tidak mungkin rumah saya seperti ini!” serunya. Ia memandangi gubuk itu dengan rasa tidak percaya.
“Di dunia saja Tuhan memberi saya mansion yang indah. Bagaimana mungkin rumah alam baka saya begitu buruk dan hina?” tanyanya.
“Rumah alam baka ibu dibangun dengan apa yang ibu kirimkan kepada kami di sini. Inilah rumah terbaik yang bisa kami bangun dari kiriman ibu,” jelas malaikat.
Ibu kaya itu terbangun dengan bercucuran keringat dingin. Sejak itu, ia memutuskan untuk berubah. Ia menyadari semua karunia yang diberikan Tuhan secara cuma-Cuma kepadanya. Menyadari betapa Tuhan Maha Rahim dan tidak memperhitungkan dosanya. Sebagai ungkapan syukur, ia mulai berbagi dan membantu orang-orang susah.

Maria Bernadeta Sutari Ibu Pengasuh Sos Desa Taruna "Mengasuh Anak Itu Suatu Panggilan"

“Mengasuh anak itu suatu panggilan”, tutur ibu Maria Bernadeta Sutari yang akrab di panggil ibu tari dikalangan anak-anak di sos desa taruna. Hal ini didasari pada pe-ngalaman selama 20 tahun, beliau mengasuh anak di sos desa taruna, karena menurut pengalamannya, beliau tidak hanya menjadi sosok ibu tapi sosok ayah untuk mendidik anak – anak asuhnya.
Wanita kelahiran 26 juli 1945 yang lahir di Magelang, tepatnya di Desa Bintaro Kelurahan Sukorejo Kecamatan Mertoyudan ini, menceritakan saat beliau memulai sebuah “panggilan”. Berawal dari tawaran adik perempuan ibunya yang bekerja sebagai pegawai kesehatan di RS Bhayangkara Semarang. Ibu Sutari menerima tawaran yang diberikan, karena ingin mencari kesibukan dan untuk mencari kepuasan batin, setelah suaminya yang seorang tentara kopasus itu meninggal dunia. Dua bulan setelah mengikuti psikotes di Lembang Bandung, beliau diterima menjadi salah satu pengasuh di sos desa taruna tepat pada tanggal 29 oktober 1988. Keluarganya pun banyak yang mendukung termasuk orang tua dan kedua anak lelakinya..

Tiga bulan pertama mengasuh, beliau merasa ragu karena beliau tidak mengasuh anaknya sendiri melainkan anak orang lain yang saat itu berjumlah 11 anak terdiri dari 3 anak wanita dan 8 anak laki-laki. karena beliau dituntun untuk menjadi seorang panutan sekaligus pelindung bagi anak asuhnya. Setelah menginjak bulan keempat ada hal yang membuat beliau betah, karena saat itu beliau menerima bayi wanita berusia 1 bulan untuk diasuh, setelah itu beliau merasa tinggal di rumah sendiri dan lebih mencintai anak-anak asuhnya. Sehingga sampai saat ini beliau telah mengasuh anak sebanyak 22 orang
Selama 20 tahun mengasuh mengalami suka dan duka, salah satunya ialah kesuksesan anak yang diasuhnya, mendapatkan nilai bagus, dan prestasi merupakan suatu kebanggaan yang didapatkannya, tapi tidak sedikit anak yang susah untuk diarahkan, sehingga mengalami kegagalan. Hal inilah yang membuat beliau sedih.
Menanggapi tahun anak dan remaja yang di canangkan KAS beliau berpendapat, bahwa anak- anak sekarang perlu didukung dan diarahkan, selain itu beliau juga me-nyarankan, untuk mendidik anak kita perlu mengetahui bagaimana karakter anak, sehingga saat mendidik atau mengasuh, kita tahu bagaimana cara kita untuk mengarahkan anak- anak kita. Beliau juga mengutarakan perbedaan anak yang diasuhnya dulu dan sekarang, bahwa anak sekarang karena terpengaruh acara televisi dan permainan modern lebih kritis tetapi susah diatur.
Sosok Ibu Sutari patut menjadi teladan orang tua sekarang, karena beliau mampu mengarahkan dan mendidik anak- anak asuhnya untuk menjadi anak yang mandiri, kreatif dan mempunyai keimanan yang kuat. Bagaimana dengan anda? ( Danu )

Belajar kepada Anak - anak

Dalam sebuah acara Natal anak-anak disebuah paroki, seorang anak bertugas membaca doa pembukaan. Doa itu akan dibaca setelah lilin menyala, dan setelah ia berdoa teman-temannya akan bernyanyi. Namun setiba dipanggung, ia baru sadar doanya tidak ada! Rupanya ketika lari-lari sebelum acara dimulai, doa itu terjatuh.
Waduh! Dengan keringatan karena mic sudah ditangan, iapun membuat doa yang sederhana. “Tuhan berkatilah supaya kami dapat benyanyi dengan bagus”, polos, tapi itu keputusan yang berani, ia melihat situasi yang dia hadapi, lalu mohon perlindungan Allah dengan sepenuh hati. Itulah kualitas anak yang mungkin tidak kita miliki, terbuka, bersahaja.

Dalam kutipan kitab suci terdapat kalimat, ”Barang siapa tidak me-nyambut kerajaan Allah seperti anak kecil, ia tidak akan masuk kerajaan surga” Lukas 18:17. Hal ini mengi-ngatkan saya pada seorang imam, yang berkotbah dengan bahasa yang sederhana, padahal ia seorang guru besar, karena kesahajaan kata-kata beliau, banyak umat yang berubah lebih baik dalam hidup.
Juga seorang romo abbas yang mengajar meditasi dengan membayangkan menjadi bayi dalam rahim Allah, tenang, tidak berkata-kata hanya bisa bersyukur karena segala yang ia perlukan, telah ia rasakan dan telah ia dapatkan. Hidupnya sangat damai.
Kita tentu juga ingat pada keluguan seorang anak kecil dalam peristiwa penggandaan roti. Ketika Tuhan bermaksud memberi makan 5000 orang, hanya seorang anak kecil yang maju memberikan miliknya yang cuma 5 roti dan 2 ikan. Mungkin ada juga orang dewasa yang membawa bekal, tapi tentunya mereka memikirkan kepentingan perut golongan, kelompok, keluarganya sendiri.
Lewat peristiwa ini kita diajak untuk berani mengajukan diri demi keinginan Tuhan. Anak kecil itu tidak perlu menunggu ada yang lebih dahulu maju. Banyak lahan yang memerlukan kita turun tangan untuk membantu, khususnya di tahun anak dan remaja ini. Tuhan sedang memanggil kita menyerahkan roti dan ikan kita, tenaga dan waktu kita. Jika kita lihat PIA sabtu minggu di sasono binuko kurang pendamping, mari membantu. Ketika kita melihat ba-nyak anak-anak kecil di wilayah, mari kita tangani.
Seperti anak yang me-nyerahkan lima roti dua ikan, yang tidak pernah takut sendirian, Tuhan Yesus pastilah menggandakan. Sederhana saja kegiatannya, mungkin berupa peringatan ulang tahun, renang bersama, bernyanyi, bercerita. Adik-adik SMP yang sudah menjadi PIR, mendampingi adik PIA juga bisa menjadi aktivitas kalian. Mudika, Ibu-ibu, Bruder, Suster, semua pasti bisa. Beranikah kita me-ngajukan diri ? ( Mb. Iin/ Wilayah Thomas )

Di mana Dua atau Tiga Orang Berkumpul dalam NamaKu, di situ Aku Ada di tengah - tengah Mereka

Pepatah jawa yang satu ini rasanya berlaku universal, paling tidak di berbagai suku di Indonesia, sifat kekerabatan dan kekeluargaan masih dijunjung tinggi. Mungkin pepatah itu dibuat di jaman susah dimana tidak selalu ada makanan yang bisa disajikan saat ada kumpul-kumpul. Tapi kenyataannya dimana-mana, suku apapun, kalau kita mau ketemuan, mau rembugan, pasti ada saja yang disajikan biarpun cuma sepiring singkong rebus dan segelas kopi.
Kalau di Jakarta, gak ada Starbuck, warteg pun jadi. Yang penting ada suasana gembira, suasana kebersamaan, senang bertemu satu sama lain dan dengan harapan setelah pertemuan ada kata sepakat yang melegakan banyak pihak. Musyawarah untuk mufakat.
Justru di jaman Yesus hidup, Ia menggunakan diplomasi meja makan dengan orang-orang yang berdosa. Ia menyapa mereka terlebih dulu dengan mau datang makan bersama mereka dirumahnya. Ia melanggar hal yang tabu bagi seorang guru yang posisinya terhormat. Dalam suasana kebersamaan, kekeluargaan di meja makan, seseorang merasa diterima satu sama lain. Tidak merasa tersisih, dan tidak takut lagi seperti Zakeus yang berdosa untuk mengakui kesalahannya dan berjanji memperbaikinya

Injil mengingatkan bahwa kalau dua-tiga orang berkumpul dan semuanya berkeinginan baik, merancang yang baik atau mendatangkan kebaikan bagi orang lain, itu adalah sama dengan menghadirkan Allah juga bagi satu sama lain. Segala yang baik pun datangnya dari Allah, maka kalau setelah berembug dan yakin bahwa yang kita minta itu baik, lalu kita sepakat untuk memintanya pada Allah, pasti apa yang diinginkan bisa terjadi, tentu dengan disertai komitmen mereka yang telah sepakat tadi.
Tapi kalau dua-tiga orang me-rancang hal yang jauh dari kebaikan, maka yang hadir adalah kejahatan seperti yang dilakukan tiga orang tak dikenal yang sepakat menculik dan menganiaya seorang romo [KOMPAS]. Berbagai tindak kejahatan yang dilakukan lebih dari satu orang, umumnya korbannya menderita lebih parah; maka tidak heran kalau hukumannya pun berat karena masuk dalam kategori : Kejahatan Berencana.
Marilah kita membiasakan diri merencanakan yang baik bersama-sama, karena dengan demikian kita menghadirkan Allah di tempat kita berkarya. Tidak bekerja untuk kemuliaan diri sendiri, tapi berharap de-ngan 2-3 orang lainnya kita bisa menjadi baik juga, saling sepakat dan mendukung untuk memberikan komitmen. Juga saling menerima satu sama lain dengan kelemahannya.
Budaya dialog dan mu–syawarah memang harus dipelihara dan ditumbuhkan agar kita tidak tumbuh menjadi manusia egois dan tidak peduli satu sama lain. Karena Allah kita adalah Allah yang menyatukan segala yang baik, Ia bekerja pada semua orang yang berkehendak baik dan ingin mendatangkan kebaikan bagi banyak orang. Jadi gpp kan kalau sedia singkong dan kopi, yang penting ngumpul…
Diambil dari blog Fiat Voluntas Tua pada 17 Agustus 2008.Blog ini dipersembahkan untuk menghormati ketaatan Bunda Maria atas cintanya kepada Tuhan. Semoga banyak kaum beriman, terutama kaum ibu, makin menimba inspirasi hidup dari Bunda Maria.

Putera - Puteri Altar Pelayan Altar yang Cinta Tuhan

Seperti Santo Tarcisius, misdinar diharapkan menjadi para pelayan altar yang mencitai Tuhan. Demikianlah sekilas inti peringatan Santo Tarcisius, pelindung Putera-Puteri Altar, dalam Pesta nama pelindung Misdinar Santa Maria Fatima Banyumanik (MISTIK).

Pesta ini dilaksanakan pada hari jumat, 15 Agustus 2008. Kegiatan diawali dengan Perayaan Ekaristi dan dilanjutkan dengan acara ramah tamah. Kegiatan ini dihadiri oleh lebih dari 50 orang anggota Misdinar, dan didukung juga oleh orang tua para misdinar serta kelompok paduan suara Laetitia. Dalam acara yang berlangsung selama kurang lebih tiga jam tersebut, nampak kegembiraan dan kebersamaan dari keluarga MISTIK ini, juga dari mereka yang hadir.
Santo Tarcisius
Tarcisius adalah seorang pelayan altar (akolit) yang hidup pada abad ke tiga, pada zaman pemerintahan kaisar Valerianus. Pada masa itu, jemaat kristen sedang mengalami banyak pengejaran. Oleh karena itu, untuk berdoa, mereka memilih tempat-tempat persembunyian seperti katakombe.

Bagi orang-orang yang berada dalam penjara, yang tidak bisa menghadiri doa dan perayaan ekaristi, diutus para Diakon tertahbis untuk memberikan kepada mereka viaticum (komuni-bekal suci). Konon, karena tidak ada Diakon yang bisa diutus, pada waktu itu Tarcisiuslah yang diutus untuk mengirimkan sakramen mahakudus kepada saudara-saudari yang ada di penjara.
Dikisahkan bahwa ketika Tarcisius dalam perjalanan, ia di hadang oleh teman-teman bermainnya yang kebetulan bukan anggota jemaat. Mereka tertarik pada benda yang dibawa Tarcisius. Namun, karena Tarcisius tidak memberikan benda yang dibawa itu, yang tak lain adalah Sakramen Mahakudus, akhirnya Tarcisius harus menderita karena pukulan teman-temannya tersebut. Ketika Tarcisius dibawa kembali ke Katakomba, ia meninggal di dalam perjalanan.
Muda, Gembira, Beriman
Misdinar adalah kumpulan putra-putri yang pada umumnya berusia antara 10-15 tahun. Begitu pula di Paroki kita, Santa Maria Fatima Banyumanik ini. Beberapa pengurus berusia lebih dari rata-rata usia misdinar lainnya.
Dalam usia yang masih tergolong muda ini, sebagaimana St. Tarcisius, para misdinar ini memiliki dinamika hidup sebagaimana anak ataupun remaja yang lain. Kekhasan antara dinamisme masa kanak ataupun remaja dan keterlibatan dalam dunia iman-keagamaan tentu memberikan kekhasan tersendiri dalam tugas pelayanan yang dimiliki.
Kekhasan ini nampak pula dalam pesta nama Santo Tarcisius yang diadakan pada 15 Agustus yang lalu. Kegembiraan dalam pergaulan dan permainan, serta sikap keterlibatan yang khas dalam perayaan ekaristi menjadi nilai yang unik untuk diperhatikan.
Dengan segala kelebihan dan kekurangan, adik-adik misdinar ini tampil sebagai tunas-tunas muda yang sudah mulai terlibat dalam kehidupan menggereja, khususnya dalam dunia liturgi yang pada umumnya menjadi daerah kaum dewasa.
Dalam tanggapan umat yang hadir mengenai pelayanan teman-teman misdinar, banyak harapan diungkapkan kepada teman-teman misdinar sendiri. Harapan ini tentu di dasari kesadaran bahwa mereka ini masih memiliki waktu yang panjang untuk berkembang menjadi pribadi-pribadi kristiani yang sungguh gembira dan beriman. (Romo Julius Purnomo, Pr)

"Tumpeng Rp 2 Juta" di Pelatihan Jurnalistik Mudika

Barang kali inilah tumpeng termahal, yang pernah ada di Paroki Santa Maria Fatima Banyumanik Semarang. Jadi buatlah sebuah berita, sehingga orang tertarik membacanya’, demikian ujar Yovita Arika, dari Harian Kompas Biro Jateng, saat memberikan materi di Pelatihan Jurnalistik baru-baru ini.
“Bahan pembuatan berita soal tumpeng ini, sebenarnya diambil dari kliping buletin paroki yang lama. Dari sedikit laporan dan informasi itu, peserta diajak berlatih menulis sebuah berita yang menarik untuk dibaca,” tambah Ika, panggilan akrab Yovita Arika, saat ditemui Lentera .
Sebanyak 53 peserta dari perwakilan mudika wilayah di paroki kita, mengikuti pelatihan yang diadakan di Novisiat Susteran Fransiskus Semarang. Pelatihan jurnalistik ini, sebenarnya untuk menyiapkan terbitnya media di paroki kita yang telah lama vacuum.

Pelatihan dibuka Romo Kepala Paroki Santa Maria Fatima Banyumanik, Romo Richardus Heru Subyakto, Pr. Romo Heru juga berpesan pada peserta pelatihan, agar apa yang didapat dalam pelatihan, kelak bisa dipraktekkan dalam menge-lola bulletin paroki.
Peserta pelatihan selain menerima materi teori, juga dibekali dengan praktek penulisan berita. Hal ini dilakukan, karena setelah usai pelatihan, mereka dilibatkan secara penuh untuk menyiapkan terbitnya bulletin paroki. Dengan adanya latihan secara langsung ini, mereka diharapkan tidak asing lagi, ketika menerbitkan bulletin paroki.
Selain dari Harian Kompas, pelatihan jurnalistik ini juga menghadirkan pakar penerbitan dari Unika Soegijapranata Semarang, Andreas Pandiangan. Pada session kedua, yang dibawakan Andeas, peserta diajak untuk memahami teknik menerbitkan bulletin.
“Untuk menerbitkan bulletin berkala, pengelola dituntut punya semangat dan kemauan yang tinggi. Bisa terbit 2 bulanan, 3 bulanan atau 6 bulanan. Yang penting ada komintmen. Jangan sudah terbit berkala, tapi terbitnya tidak menentu, kadang terbit kadang tidak”, ujar Andreas.
Pada saat memasuki materi praktek, peserta dikelompokkan menjadi 5 kelompok. Masing-masing diberi tugas merencanakan menerbitkan bulletin. Setelah itu, hasilnya dibacakan dan didiskusikan.
Pelatihan jurnalistik ini juga dihadiri Hubertus Harjanta dan Joko Purwoko dari Dewan Paroki. Yang de-ngan setia bersama Romo Heru menemani peserta pelatihan hingga usai.
Pelatihan ditutup oleh Romo Heru dengan memberikan pesan, agar peserta pelatihan ini, kelak bisa mewartakan kegiatan wilayah masing-masing dalam bulletin paroki. Hal ini bertujuan agar arus informasi antar wilayah bisa diketahui umat wilayah lainnya. ( Lambertus DN )

Surat dari Semi dan Wiji

Pendidikan bagi anak-anak kita adalah penyertaan.
Jangan tinggalkan mereka sendiri,
karena kepada mereka jalan masih perlu ditunjukkan;
namun juga jangan manjakan mereka,
Karena memanjakan membuat mereka mati dan kehilangan daya hidup
Dan bila waktunya tiba,
biarkan mereka menemukan jalan mereka menjadi rusa dewasa
melonjak dan berlari menuju Allah dan kehidupan
* * *

Perkenalkan, namaku Semi. Demikian orangtuaku memanggil, anak perempuan mereka. Mereka bilang, namaku berarti tunas, harapan masa depan mereka. Usiaku empat belas tahun, tepatnya empat belas tahun kurang tiga hari. Aku adalah anak kedua bapak dan ibuku
Aku punya satu adik laki-laki, namanya Wiji. Usianya enam sete-ngah tahun. Dia adikku satu-satunya. Anaknya nakal, suka menarik-narik rambutku. Tapi, aku sayang padanya, karena dia lucu. Ibu bilang, adikku diberi nama Wiji karena ia seperti benih, yang siap tumbuh dan bertunas. Wah, kalau nanti sudah jadi tunas, apa namanya juga jadi mirip namaku ya...?kan aneh, masak anak laki-laki namanya semi...

Oya, aku juga punya seorang kakak. Namanya mas Heru. Kakak cerita namanya diambil dari kata jawa hèr yang artinya air, dan Kawruh yang artinya pengetahuan. Lalu, biar jadi nama yang tidak aneh, jadilah namanya Heru, atau mas Heru. Demikian aku memanggilnya.
Ehmm... ini suratku pada mereka.
Untuk Bapak, Ibu, dan Kakak sekalian,
Bapak, ibu, dan kakak sekalian, terimakasih atas segala perhatian yang kalian berikan untuk kami berdua selama ini. Sebulan yang lalu kalian mengantar kami masuk sekolah asrama ini. Aku masih ingat perjalanan itu. Aku gembira mengingat perjalanan kita melintasi sawah di seberang kampung. Sambil berjalan, bapak bilang ‘nduk, bapak minta maaf tidak bisa nganter kalian naik angkot. Bapak ndak punya duitnya.’ Bapak, aku sungguh tidak merasa keberatan. Aku senang dengan perjalanan itu. Aku rindu kalian.
Bapak, aku yakin, kalau kalian mau mengantar Wiji dan Semi buat masuk sekolah asrama, itu sudah menunjukkan kalian sayang pada kami. Aku yakin, kalau bapak punya duit, pasti bapak mengajak kami naik angkot ke sini. Kalian menemani kami. Itu yang penting. Kalian memberi pelajaran pada kami bahwa hal baik harus diutamakan, meski kami sempat lelah, atau mengeluh. Kadang kalian menggendong kami, tapi tidak kalian biarkan kami terbuai. Kami tetap kauminta berjalan.
Aku tahu, kalian ingin aku belajar tidak menyerah. Oleh karena itu, kalian kadang menolak untuk menggendong kami, sekeras apapun kami merengek. Namun, kalian ingin juga kami sekaligus mengerti bahwa cinta selalu ada bersama kami, dengan permen asem yang kalian berikan sebagai penghilang haus kami.
Kemarin dik Wiji bilang ingin seperti ibu, karena ibu selalu menggendongnya kalau ia merengek kecapekan. Semi bilang tidak mungkin, karena Wiji itu anak laki-laki, sementara ibu perempuan. Tapi, Wiji tetap saja ngeyel. Ibu, kadang akupun merasa cemburu, karena ibu memperhatikan Wiji daripada aku. Tapi entah kenapa, aku juga tahu memang aku seharusnya menerima. Kan dia lebih kecil dari aku.
Oya, kakak, Semi masih ingat kata-kata kakak, waktu kalian hendak pulang dari asrama ini. Kakak bilang agar Semi patuh sama Suster Nien yang menerima kami. Kakak pesan agar Semi dan Wiji belajar sungguh-sungguh. Biar bisa lebih pandai dari Kakak. Tapi bagaimana mungkin aku bisa mengalahkan kakak buat mencangkul ladang atau memerah susu sapi. Di asrama kan tidak ada ladang dan sapi ! hanya ada seekor babi betina dan sepuluh anak mungilnya. Kak, kasian babi jantannya, sudah disembelih buat mengisi perut kami.
Kakak, Ibu, Bapak... Di asrama Semi diajari membaca dan menulis. Oya, kami juga diajari berdoa. Tapi sering ngantuk. Habis, doanya lama. Tolong jangan bilang Suster Nien ya! Nanti Semi disuruh melipat selimut seluruh teman sekamar.
Aduuhh, Semi masih pengen nulis lagi, tapi Suster bilang Semi harus cepat tidur, biar besok tidak bangun kesiangan. Jadi, nulisnya harus cepat selesai. Semi harap keluarga di rumah tidak khawatir. Karena meskipun kadang bosan dan capek, Semi senang di sini. Apalagi Wiji, tiap hari kerjaannya mencari Jangkrik sama teman-temannya tentu sehabis pelajaran membacanya selesai.
Semi juga janji ndak akan malas, apalagi merengek minta pulang. Semi yakin, Ibu, Bapak dan Kakak selalu mendoakan Semi dan Wiji. Biar kami jadi anak-anak yang baik dan pinter. Apalagi, kalau Semi atau Wiji kangen rumah, pasti Suster Nien, atau Suster yang lain menghibur kami. Bercerita kalau Bapak, Ibu di rumah berdoa selalu buat kami. Eh...Kakak Juga lho, hehehe...
Bapak, Ibu, Kakak, yang baik, Semi nulis suratnya sudah dulu ya. Kapan-kapan lagi Semi teruskan. Oya, Wiji Bilang, kalau nanti sudah bisa nulis sendiri, pengen ikutan nulis surat buat orang rumah. Udah dulu ya, malam ini kami mau doa di depan Patung Keluarga Kudus. Jadi Yesusnya masih kecil, masih digendong. Tapi ada juga patung Tuhan Yesus yang sudah besar. Semi jadi inget sama Bapak, Ibu, dan kakak lagi....
Wiji dan Semi
(Romo Julius Purnomo, Pr)

Lentera di Mata Kami

Kehadiran buletin baru kita ini memang tidak terduga-duga. Dari beberapa orang yang kami wawancarai banyak yang belum tahu mengenai pe-nerbitan buletin baru, yang diberi judul "Lentera" ini. Tapi respon yang keluar dari mereka, jelas sekali menunjukkan rasa senang dan apresisasi yang tinggi, akan adanya "Lentera" ini.
Bahkan kami mendapat beberapa saran agar buletin baru ini dapat terus eksis dan memberikan manfaat. "Bagus aja, bisa mengetahui informasi baru, dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh wilayah-wilayah di paroki. Saran saya biar tetep eksis, ya tim redaksi harus rajin cari berita, kalau bisa nggak cuma dari paroki kita, atau bahkan diselingi dengan berita umum" ujar Mbak Ana, salah satu "senior" dari Mudika Antonius.

Ya walaupun buletin ini bisa dikatakan muda, namun sepertinya kehadirannya sudah dinanti - nanti, mengingat buletin ini dapat dijadikan wadah untuk melihat kegiatan di sekitar paroki maupun wilayah. " Bagus sekali, karena bisa buat ajang kreativitas, kalo bisa harus stabil, harus tetap eksis. Tim redaksi harus bekerja keras dalam membentuk buletin baru, karena sudah lama fakum. Kalo bisa sih lebih banyak gambar, diisi dengan hal hal yang bersifat umum, ja-ngan cuma berita dari gereja kita aja tapi juga dari paroki lain yang ada" begitulah kata Mas Roni (wilayah Antonius), yang kami temui di sela-sela kesibukannya.
Lain lagi kata teman kita yang satu ini, dia ingin agar buletin kita ini menjadi lebih gaul. "Bagus banget kalo mau ada buletin lagi. Supaya umat Banyumanik tidak ketinggalan info, baik dari seputar lingkungan paroki kita, maupun dari paroki lain, sekaligus umat bisa mengetahui berita-berita yang lain. Dan untuk saran sih, kedepannya biar lebih gaul, ya misalnya tips mencari cinta sehat ala Romo Pur atau fashion yang update buat pergi ke gereja," ujar Putut, salah satu Mudika wilayah Antonius.
Ya Ada-ada saja ide dan saran dari kalangan mudika wilayah Antonius ini, tapi jelas sekali mereka mendukung dan memotivasi agar buletin ini tetap eksis. Salam Lentera (Matias dan Monica)

(Keprok-keprok) Sst....Sst...... (Keprok-keprok) Sst......Sst.... Diam!!!

Tepukan itu sering terdengar dari ruang Sasono Binuko, Gereja Santa Maria Fatima Banyumanik, setiap hari sabtu sore dan minggu pagi. Tepukan di atas menjadi andalan bagi kakak-kakak pendamping PIA (Pendampingan Iman Anak) untuk mengatasi kegaduhan yang terjadi selama pendampingan iman anak.
Sebelum misa berlangsung, beberapa anak kecil yang belum menyambut komuni pertama menuju ke Sasono Binuko untuk berkumpul dengan teman-teman seusianya. Anak-anak terkadang menunggu di sekitar pelataran gua Maria yang terletak di area parkir mobil, sambil melihat ikan-ikan untuk menunggu kedata-ngan kakak-kakak pendamping PIA.
Sesaat setelah lonceng misa berdentang, tanda misa dimulai, kakak pendamping dan anak-anak masuk ke ruang Sasono Binuko untuk memulai pen-dampingan iman anak.

Doa Anak
Berbagai macam kegiatan dilaksanakan selama proses pendampingan. Doa pembukaan mengawali acara ini. Terkadang ada anak yang mau menawarkan diri untuk memimpin doa spontan, dan yang paling menarik adalah anak-anak berebut untuk memimpin doa Bapa Kami, Salam Maria, dan Kemuliaan.
Antusiasme anak untuk memimpin doa-doa tersebut cukup bagus dan pendamping harus pintar membagi tugas tersebut dengan adil, sehingga semakin memotivasi anak untuk berani membawakan sebuah doa dengan baik.
Selepas berdoa, anak-anak diajak untuk bernyanyi bersama sambil bergaya. Kakak pendam-ping menyebutnya sebagai ’gerak lagu’. Bagian ini dimaksudkan untuk memberi semangat bagi anak-anak untuk selalu memuji Tuhan di setiap kesempatan yang ada.
Gerak lagu ini memang tidak selalu berjalan tertib karena kadang-kadang ada anak-anak yang memulai suatu tingkah lucu atau menganggu teman-temannya, sehingga membuat gaduh suasana pendampingan. Kemudian beberapa anak mulai berteriak dan bercanda satu sama lain. Suasananya sungguh gaduh, tapi begitulah anak-anak. Mereka sangat ekspresif sekalipun dalam lingkungan yang mengharuskan mereka bersikap baik.
Nah,,, (Keprok-keprok) Sst.......Sst..... (keprok-keprok) Sst....Sst... Diam. Tepuk DIAM seperti ini menjadi senjata efektif untuk menenangkan kembali anak-anak.
Sabda Tuhan
Anak-anak yang telah menjadi tenang kembali, memungkinkan kakak pendamping untuk melanjutkan bagian berikutnya, yaitu penyampaian sabda Tuhan.
Pada prinsipnya, bagian inilah yang menjadi inti dari pendampingan iman anak. Pendamping menyampaikan sabda Tuhan dengan bahasa sederhana, yang memungkinkan anak-anak mengerti pesan yang disampaikan sabda Tuhan.
Banyak cara yang bisa dilakukan, dengan metode bercerita, berdongeng, menggunakan alat peraga, maupun dengan mengemas penyampaian sabda melalui drama. Apapun metode yang digunakan, yang paling penting adalah anak-anak mengerti maksud dari sabda Tuhan, yang disampaikan meskipun secara sederhana.
Penyampaian sabda tersebut diperkuat dengan kegiatan membuat hasil karya yang dibuat sendiri oleh anak-anak. Nah, pada saat inilah kegaduhan bisa terjadi lagi karena mereka saling bercanda satu sama lain sambil mengerjakan. Tapi tenang saja kakak pendamping sudah punya senjata efektif.
Di sela-sela membuat hasil karya, anak-anak menyisihkan uang sakunya untuk mengisi kolekte mingguan. Salah satu anak pasti dengan sukarela menyediakan diri untuk berkeliling membawa kotak persembahan. Kemudian anak-anak melanjutkan kembali aktivitasnya, kemudian mengumpulkannya jika sudah selesai.
Menerima Berkat
Kegiatan membuat hasil karya berlangsung sampai waktu pemberkatan anak-anak. Pemberkatan diberikan setelah doa damai. Anak-anak berbaris menuju altar, setelah menerima berkat anak-anak dibiasakan untuk berdoa mengucap syukur atas berkat yang sudah diterimanya.
Bagian terakhir dari pendam-pingan iman ini adalah doa umat, sekaligus doa penutup. Sekali lagi, ada beberapa anak yang memberikan dirinya untuk memimpin doa. Selesai berdoa anak-anak biasanya anak menjadi sangat ribut sekali, karena mereka ingin mendapatkan kembali hasil karyanya. Nah.. apa yang mesti dilakukan??? Ya........ ”TEPUK DIAM”
(Keprok-keprok) Sst......Sst..... (keprok-keprok) Sst....Sst... DIAM!!!! (by siska)

Bunda Maria Secara Pribadi Mengajari Kita

Inilah sepenggal doa Persembahan Kepada Bunda Maria Fatima, pelindung Gereja kita tercinta, yang selalu kita doakan bersama-sama di dalam Misa Malam Tirakatan Bunda Maria Fatima, tanggal 12 setiap bulan.
Di Fatima pada tahun 1917, Bunda Maria meminta kepada FRANSISCO MARTO untuk banyak berdoa Rosario suci dan mempersembahkan diri kepada HatiNya Yang Tak Bernoda, sebelum mencapai surga. Fransisco bersedia menerima tantangan yang lembut dan keibuaan tersebut untuk banyak berdoa dan taat/setia. Bersediakah kita ?

Tidak ada suatu relasi yang dapat terjalin dengan baik tanpa adanya komunikasi. Relasi yang paling hakiki dalam kehidupan ini adalah relasi kita dengan Tuhan melalui Doa, bahwa di dalam DIA, kita “HIDUP, BERGERAK dan MENJADI APA ADANYA kita”. Oleh karenanya sangatlah penting bagi kita untuk menyediakan waktu untuk berdoa setiap hari.
Bila kita menyimak kehidupan duniawi Bunda Maria, kita akan takjub oleh perhatiannya terhadap perbuatan Tuhan di dalam Dia dan di sekeliling Dia. Maria memiliki jiwa lembut yang memperhatikan dengan seksama perbuatan Tuhan dalam hidupnya. (Luk. 2: 19,51).
Doa Bunda Maria adalah doa yang gigih. Apa yang dimaksud dengan “Doa yang gigih”?
Marilah kita menyimak masing-masing kata di dalamnya. Menurut Merriam Webster’s Online Dictionary, kata sifat “gigih (steadfast)” memiliki dua arti : 1) Tak tergoyahkan; 2) Setia. Padanan kata yang lebih sesuai untuk gigih adalah “SETIA (faithful)”.
Bunda Maria larut dalam kontemplasinya kepada Tuhan dan kepada semua hal yang bersifat Ilahi. Bunda tidak hanya sekedar menghabiskan waktu dalam doa-doaNya, tetapi Ia juga memasrahka diri sepenuhnya selama masa-masa hening tersebut. Dengan kata lain, doanya begitu tekun; dan tidak tergoyahkan. Keinginannya berdoa tak pernah mengendur ….. Bunda memusatkan segala kehendaknya dalam doa yang dipanjatkannya tersebut. Tekadnya tidak tergoyahkan.
Akhir-akhir ini terdapat kecenderungan yang meresahkan, yang semakin diyakini – dimana mereka mempunyai prinsip “Pekerjaanku adalah doaku”. Prinsip ini seringkali diartikan bahwa bukannya me-nyediakan saat-saat teduh setiap harinya untuk berdoa, seseorang malah lebih tenggelam dalam tugas/pekerjaannya, yang berarti menyepelekan waktu untuk berdoa, yang merupakan sarana berkomunikasi dengan Tuhan.
Tindakan tersebut tidaklah benar dan pada akhirnya dapat membahayakan jiwa. Adalah benar jika dikatakan bahwa pekerjaan/tugas-tugas kita merupakan persembahan kepada Sang Pencipta, bahwa kita mensyukuri tugas-tugas kita. Namun, setiap orang seyogianya membutuhkan waktu tiap hari khusus untuk berdoa di mana kita mendengarkan suaraNya dan menanggapiNya secara khusuk, tanpa terganggu hal-hal lain.
Bunda Maria menjadikan kar-yanya sekaligus sebagai doanya. Namun Dia tetap meluangkan begitu banyak waktu untuk berkomunikasi dengan Tuhan.
Hingga akhir hidupnya di dunia, Sang Perawan Maria berkanjang dalam doa. Dan sekarang di surga, Ia masih juga tetap berkanjang dalam doa, untuk kita dan intensi-intensi kita.
Mampukah kita, seperti Bunda Maria, selalu gigih dalam berdoa?
Kita dapat juga setia dalam doa seperti Bunda Maria, dan bisa larut sepenuhnya dalam pembicaraan de-ngan Tuhan. Kita bisa menghindarkan diri kita dari konsep keliru, untuk me-ngurangi waktu berdoa dengan alasan sibuk, seberapapun wajarnya kesibukan itu.
Seperti halnya Tuhan dan Juru Selamat kita Yesus Kristus, Bunda Maria merupakan teladan dalam hal berdoa. Di surga, Dia berdoa untuk kita. Di dunia kita berdoa bahwa kehidupan kekal yang Bunda sekarang nikmati di surga, suatu saat bisa kita nikmati juga. Mampukah kita ??? (Ibu Ag. Th. Nicolas/ Tim Kerja Devosi-Liturgi & Peribadatan)


Pembinaan Kaum Muda Katolik di Persimpangan Jalan

Tidak bisa dipungkiri bahwa berkembang tidaknya suatu bangsa tergantung pada kaum muda. Dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia, kaum muda mempunyai posisi yang penting sebagai pembawa perubahan. Setiap ada kemandegan, yang berujung pada penderiataan rakyat, kaum muda siap mendobraknya. Dengan demikian, tidak disangsikan lagi peran kaum muda sebagai “agent of change”.
Situasi demikian juga terjadi dalam lingkup gereja Katolik. Kaum muda merupakan pembawa perubahan kehidupan menggereja. Kehadiran mereka bukan hanya sebagai ‘bolo dupakan’ dengan aktifitas seputar tempat parkir. Tetapi mereka diharapkan, dan sudah seharusnya lebih berperan lagi sebagai penggerak kehidupan menggereja. Idealisme demikian, kiranya masih jauh dari harapan, ketika melihat sepak terjang orang muda. Tidak jarang saling menyalahkan (dalam diam) antara orang muda dan orang dewasa. Mungkinkah bahwa titik lemahnya di dalam pendampingan kaum muda itu sendiri?

Pengalaman terlibat dalam dinamika bersama kaum muda selama ini. Sepertinya orang muda mempu-nyai dinamika tersendiri, yang berbeda dengan dinamika orang tua. Perbedaan dinamika ini terkadang kurang terjembatani. Sehingga saling silang pengertian mudah terjadi. Satu hal yang mungkin bisa dilakukan adalah duduk bersama, sharing bersama. Berbicara kemauan masing-masing untuk kemudian mencari titik temu atau setidaknya saling mengerti.
Macetnya kegiatan-kegiatan orang muda juga disebabkan oleh kurang atau tidak adanya evaluasi kegiatan. Kalaupun ada evaluasi ya tinggal evaluasi, tanpa ada tindak lanjutnya. Sekedar memenuhi permintaan untuk sahnya laporan pertanggungjawaban. Dana terkadang muncul juga menjadi kendala. Namun benarkah dana merupakan kendala? Persoalan pendanaan seharusnya hanyalah persoalan kecil, ketika ada kreatifitas dalam penggalian dana.
Beberapa tantangan di atas disinyalir merupakan dosa pembinaan kaum muda itu sendiri. Oleh Philips Tangdilintin (2008) diungkapkan adanya lima dosa pembinaan kaum muda.
NATO = no action, talk only”, banyak omong, kaya rumusan, kurang aksi!
Tidak dipungkiri pentingnya peran dan pembinaan kaum muda. Dalam banyak kesempatan pertemuan hal ini selalu menjadi topik dan bahasan yang hangat, yang akhirnya menghasilkan rumusan-rumusan rekomendasi yang sangat baik. Rekomendasi kemudian disosialisasikan dan berhenti sebatas sosialisasi saja. Penjabaran aktualisasi ke dalam kegiatan-kegiatan atau gerakan-gerakan pembaharuan tidak terjadi.
Menganggap orang muda katolik hanya ‘harapan masa depan’.
Orang muda dianggap sebagai the churchmen of tomorrow, warga gereja masa depan. Sehingga dalam setiap kegiatan-kegiatan, orang muda cenderung ditempatkan sebagai pelengkap (penderita), kurang mendapat tempat yang strategis. Hal ini disebabkan ‘katanya’ orang muda kurang pengalaman. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana mungkin punya pengalaman, ketika tidak diberi tanggungjawab atau dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan.
Menganggap pembinaan orang muda katolik sebagai ‘opsional’
Perubahan dan pembaharuan menuju keadaban publik merupakan opsi gereja yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Tanggung jawab dan peran terbesar dalam perubahan dan pembaharuan ada di tangan kaum muda. Untuk itu dibutuhkan generasi muda yang lebih jujur, lebih adil, lebih disiplin, lebih bertanggung jawab, lebih terbuka-inklusif, memiliki daya juang dan iman yang kokoh. Maka pembinaan orang muda katolik haruslah menjadi pilihan esensial dan imperaktif, bukannya opsional.
Bergerak seputar altar, lupa misi sosial.
Ketika pembinaan orang muda katolik sudah berjalan, kegiatannya berlangsung di seputar altar. Kegiatan sosial atau politik kurang mendapatkan porsi. Sehingga tidak heran semakin berkurangnya tokoh-tokoh sosial atau politik dari kalangan muda katolik.
Tanpa konsep, tanpa sistem, tanpa kontinuitas
Pembinaan masih banyak yang ditangani secara parsial, belumlah merupakan suatu sistem yang konsisten dan continuous improvement (peningkatan terus-menerus). Dapat dikatakan ganti pengurus ganti program atau kebijakan.
Untuk menghadirkan ciri kaum muda sebagai agent of change, agen perubahan yang energik, kreatif, solutif, dinamis, empatik, kritis, dan berani mengambil resiko, mau tidak mau harus didukung dengan perubahan paradigma pembinaan, atau pendampingan kaum muda katolik. Paradigma yang seperti apa? Itu menjadi tanggung jawab bersama, tanpa terjebak kembali ke dalam lima dosa pembinaan. (Br. Conrad, CSA)

Bangkitlah Kaum Muda Katolik

[ Surat kecil untuk Mudika ]
Kurangnya perhatian, dan ketiadaan dana serta keterbatasan informasi, telah membuat kaum muda Katolik bingung, darimana harus memulai komunikasi. Kebingu-ngan itu masih masuk akal jika terjadi di wilayah pedalaman. Namun jika kebingungan tersebut datang dari kaum muda di kota-kota besar, rasanya itu cukup ironis.
Arus deras informasi yang kini didukung oleh teknologi internet dan telepon selularpun, membuat kaum muda kita bertanya-tanya. Apa tugas bidang komunikasi di paroki-paroki? Jawaban yang paling gampang ditemukan adalah bahwa tugas bidang komunikasi itu ialah membuat bulletin, ataupun media komunikasi lainnya.

Namun, jawaban di atas itupun masih membingungkan kaum muda di perkotaan. Ada asumsi bahwa memulai kegiatan komunikasi harus dari hirarki di atas. Pimpinan gerejalah yang harus memulai dan membuat arahan komunikasi. Kaum muda dengan semangat muda, seyogyanya bisa mendobrak tradisi tersebut.
Masih segar di telinga kita bagaimana Barack Obama, kandidat muda berlatar belakang wartawan, akhirnya tampil sebagai calon presiden kulit hitam pertama di negara adidaya Amerika Serikat. Masih segar pula pembuktian bahwa internet menjadi faktor kunci kemenangan sang kandidat .
Tampilnya Obama telah menjadi bukti betapa kekuatan arus informasi dan komunikasi yang didukung dengan semangat perubahan, mampu mendobrak undang-undang tak tertulis "Presiden Amerika Serikat harus berkulit putih".
Maka amatlah disayangkan jika kaum muda Katolik merasa terbentur dengan rintangan otoritas hirarki, ataupun kekurangan sumber informasi. Ide-ide kreatif yang bergulir dari obrolan di café, kerjasama lintas sosial, ataupun penggalangan amal solidaritas, bisa menjadi langkah bagi awal kaum muda, untuk membangun komunikasi bagi gerejanya.
Mulai dari ide perayaan Valentine Day, donor darah, kerja bakti kebersihan, kerjasama antara Mudika dan RT setempat, sampai pada forum dalog formal, secara tidak langsung sudah menjadi sumber pewarta gerejanya.
Semua wujud fisik media seperti radio, tv, handphone dan internet hanyalah bentuk fisik sarana pewartaan. Gerak kaum muda sesungguhnya merupakan seksi komunikasi gereja yang sebenarnya. "Maka, bangkitlah kaum muda!!! Buatlah sesuatu dengan semangat, maka gereja akan berubah. Karena gereja adalah dirimu juga". (Wiwin)

“Kebangkitan” MUDIKA Santa Katarina

Setelah sekian lama kita tidak merasakan adanya gerakan dari mudika Santa Katarina, akhirnya pada hari Kamis-Jumat tanggal 10-11 Juli 2008 mudika Santa Katarina mengadakan acara di Gua Maria Kerep Ambarawa (GMKA) yang bertajuk “weekend mudika Santa Katarina”. Namun karena terhalang oleh banyaknya anggota mudika Santa Katarina yang sudah harus mengikuti acara di sekolah masing-masing pada hari Sabtu, maka acara tersebut terpaksa diadakan pada hari Kamis dan Jumat.
Dalam acara tersebut para peserta tidak dikenai biaya. Para panitia berusaha keras menggalang dana untuk menutup semua kebutuhan yaitu dengan menjual Koran bekas dan pakaian pantas pakai. Selain itu panitia juga berusaha untuk me-ngetuk hati para donatur. Hasilnya panitia dapat menutup semua kebutuhan dan bahkan masih ada sisa Rp 600.000,00 yang selanjutnya menjadi kas mudika.

“Perjalanan kita sempat terhambat karena sopir bus nerjang lampu kuning, terus kita kena tilang dech.” Kata salah seorang panitia yang ikut dalam rombongan peserta. Tapi kejadian itu tidak membuat semangat para mudika berkurang. Mereka tetap bersemangat mengikuti acara demi acara yang diadakan oleh PKM (Pendampingan Kemahasiswaan) dari UNIKA yang pada kesempatan tersebut diberi kepercayaan oleh panitia sebagai pengisi acara.
Dari acara weekend ini diharapkan para peserta dapat termotivasi untuk lebih akrab dan mengenal seluk beluk keorganisasian yang berpijak pada kebersamaan dan mu-syawarah. Adanya acara simulasi yang terkemas dalam sesi breaking ice, menciptakan suasana saling mengenal dan keakraban diantara peserta. Dalam sesi – sesi selanjutnya terbentuk suatu kerjasama dalam kelompok yang semoga dapat terealisasi dalam kegiatan nyata. Dengan demikian mudika St. Katarina akan mampu bangkit dari mati suri yang berkepanjangan. (Diana—Reporter Katarina)